Hidup tidak selalu berjalan optimis seperti waktu pagi ketika kita bangun. Ada suatu sore ketika lembayung warna jingga menutupi langit. Lembayung yang janggal, karena seolah ia menjadi perantara siang yang enerjik dan malam yang suram.
Lembayung kalau ia datang, seakan ingin menyuruh kita berhenti dan merenung. Karena tidak setiap sore sejanggal waktu ketika lembayung datang. Ia melambangkan peralihan yang suram, dan di kesuraman itu ia ingin kita menemukan tujuan yang bisa melampui optimisme siang. Sebuah tujuan dan makna yang akan bisa bertahan walau di lembah bayang – bayang maut kematian.
Adalah fakta yang tak dapat dipungkiri, bahwa setiap kita selalu ingin pulang. Mereka yang merantau kadang merindukan tanah airnya. Manusia urban ingin pulang ke kampungnya, dan seorang anak ingin pulang kerumah bapanya. Dan hal yang sama bagi setiap kita, kita semua ingin pulang, dan beristirahat dari lelahnya perjalanan. Kita semua ingin pulang ke suatu tempat dari mana kita berasal, dan kita ingin diterima disitu sebagai seorang anak yang kembali.
Naluri pulang, seperti sudah dititipkan dalam DNA kita. Bahwa selalu ada ruang kosong dalam jiwa kita sebelum kita menemukan jalan pulang. Ketika banyak arah kita jalani, dan jiwa masih gelisah karena jalan seakan tanpa cahaya. Lalu di terik setiap siang kita menjadi orang -orang yang haus, dan setiap pelepas dahaga hanya mengingatkan kita bahwa besok kita akan haus lagi ingin minum.
Kita terus mencari, jalan pulang dimana terang sampai kelubuk hati yang gelisah. Kita terus mencari, negeri dimana air tidak membuat kita haus, dan kita ingin berhenti di suatu tempat dimana kita mengenal istirahat dan perhentian. Sebuah rumah dimana kita akan tidur berbaring dengan tentram, dan melupakan lelahnya pencarian.
Teman -teman, jika sore ini lembayung datang, berhentilah dan pikirkan semua jalan yang telah ditempuh. Karena kita tak dapat mendustai jiwa kita dengan berkata bahwa segala sesuatu akan baik -baik saja. Kedalaman hati yang gelisah hanya dapat tentram jika ia menemukan jalan pulang. Marilah, selama lembayung belum ditelan gelapnya malam, masih ada harapan jalan itu ditemukan.

Olive Fruit

Olive Fruit

Kita berjalan jauh menuju gunung ini. Begitu jauh sehingga kita begitu lelah. Nampaknya tinggal sedikit waktu lagi, puncak gunung itu akan kita raih.

Seperti kata banyak orang, naiklah kepuncak gunung – gunung, kamu akan temukan yang kamu cari –mungkin semacam buah pohon kehidupan atau pil panacea

Puncak itu selalu kita pandangi , meski dari jauh dahulu. Kita terus menatapnya tiap pagi dan petang ketika ia terlihat. Kita telah berharap begitu banyak pada puncakgunung ini.

Sekarang, kita sudah tiba di puncak gunung ini. Tak ada apa -apa, kecuali langit yang sama kita lihat, dan dunia yang sama kita lihat. Nun jauh di seberang lembah begitu lebar, tampak lagi puncak gunung yang lain.

Dan seperti Sisipus, yang terus naik ke puncak gunung mendorong batu hukumannya, nampaknya kita tak temukan apa – apa di puncak ini. Di puncak pencarian, kita tak temukan apa- apa.

Mungkin saatnya kita mesti kembali merenung jalan yang kita tempuh, selama waktu masih tersisa untuk sebuah perjalanan terakhir. Dan jangan sampai terjadi, bahwa akhir dari perjalanan itu hanyalah Puncak yang tidak berbeda dari puncak gunung ini.

Mungkin saatnya, mempertanyakan semua yang sudah kita bangun dan tempuh. Agar bila ternyata kita harus berputar arah, waktu masih menunggu kita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.